Monday, July 5, 2010

UMAR BIN KHATTAB DAN LAW OF ATTRACTION DALAM ISLAM



“Setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR Bukhari Muslim)

The Secret, Law of Attraction, sepertinya telah membuahkan revolusi spiritual dan keyakinan yang besar di Benua Barat sana. Bagi yang sudah baca bukunya, “The Secret” oleh Rhonda Byrne, tentu kenal dengan istilah “Law of Attraction”, hukum tarik-menarik. Bahwa pikiran menarik kejadian-kejadian dalam hidup kita. “Aksi” pikiran kita akan menimbulkan “reaksi” berupa kejadian. Bahwa pikiran kita akan mengeluarkan frekuensi yang tertangkap semesta, untuk kembali pada kita dalam bentuk kejadian-kejadian sesuai yang kita pikirkan.

Tapi banyak teman-teman muslim jadi takut (termasuk saya juga pernah), kalau menggunakan “Law of Attraction” akan terjebak syirik. Masak kebutuhan dipenuhi sama semesta bukannya Allah? Bahkan, seorang teman ada yang berpikir kalo Law of Atrraction itu bid’ah, nggak ada dalam Islam dan bikin kita kufur ama qadha dan qadar. Eitts, teman, jangan terburu dulu. Sebelum kita menuduh yang enggak-enggak, coba kita flashback sejenak. Flashback ke kisah sejati sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu.

Pada saat Rasulullah isra-mi’raj, beliau diperlihatkan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Di surga, Rasulullah melihat sekumpulan bidadari yang bercanda dan bercengkerama, namun hanya satu bidadari yang berbeda. Ia tampak sangat pemalu dan menyendiri dari teman-temannya. Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “siapa bidadari itu?”. Dan dijawab Jibril, “itu adalah bidadari untuk sahabatmu Umar bin Khattab. Ketika ia membaca ayat tentang keindahan surga, ia menginginkan dalam pikirannya, bidadari untuknya berkulit hitam manis, berdahi lebar, memiliki mata berwarna biru di atasnya dan merah di bawahnya. Karena sahabatmu itu selalu segera melaksanakan perintah Allah, maka Allah segera menciptakan bidadari yang sesuai dengan pikirannya”

Umar melakukan “visualisasi”, “menginginkan dalam pikirannya”, ia punya gambaran dengan jelas ciri-ciri bidadari yang ia inginkan untuk menemaninya di surga. Dan Allah segera mewujudkan gambaran visualisasinya menjadi kenyataan, walau tidak di dunia ini. Apa yang sulit bagiNya? “Kun! Fayakun”. “Terjadilah”, kataNya, maka terjadilah.

.

>> Law of Attraction : “Like Attracts Like”

John Peace dalam bukunya “Advanced Attraction” menjelaskan dengan sangat baik perumpamaan law of attraction ini. Dia menjelaskan fenomena “pasir di atas logam”. Ketika kita menaburkan sejumlah pasir di atas lempengan logam, lalu logam itu kita beri ketukan dengan besar frekuensi yang cukup untuk menghasilkan getaran pada logam itu, akhirnya terjadi energi gelombang di atas lempengan logam. Pasir yang ada di atasnya akan menyebar menempati wilayah lempengan yang gelombangnya nol, sehingga membentuk pola-pola tertentu yang dapat kita lihat. Bentuk pola-pola ini tergantung frekuensi ketukan yang kita berikan kepada lempeng logam (seperti gambar di bawah ini).

sandwave

Dan contoh lain, adalah garputala. Bila dua garputala yang memiliki karakteristik sama diletakkan saling berhadapan; lalu salah satu garputala diketuk dan dibunyikan, maka garputala pasangannya akan berbunyi karena adanya resonansi. Demikian kira-kira pikiran negatif akan memanggil resonansi berupa kejadian negatif yang kita alami, dan pikiran positif sebaliknya. Di dunia nyata, dua orang manusia dapat saling cocok, “beresonansi” satu sama lain ketika mereka berbagi “frekuensi” sama. Di dunia pergaulan dan perjodohan kita mengenal “like attracts like”. Orang religius biasanya mencari jodoh religius, di SMA anak gaul bikin geng dengan sesama anak gaul; karena mereka memiliki frekuensi yang sesuai.

Tidak jauh-jauh pada partikel dan gelombang, secara psikologis pikiran negatif akan mempengaruhi kepribadian dan sugesti kita. Susan Jeffers, dalam bukunya “Feel the Fear and Do it Anyway” menceritakan bahwa ia pernah melakukan percobaan kecil dengan muridnya. Murid itu disuruh berdiri sambil menekuk tangannya, dan harus tetap mempertahankan demikian ketika Jeffers meluruskan paksa tangan si murid. Hal ini bisa dilakukan si murid tanpa kesulitan. Jeffers lalu menyuruh murid itu mengulang dalam pikirannya 10 kali “saya lemah dan tidak berharga”. Tak disangka, Jeffers dengan sangat mudah dapat meluruskan lengan murid itu. Kemudian Jeffers menyuruh murid mengulang dalam pikirannya “saya kuat dan berharga” 10 kali. Ternyata, tangan murid ini makin kuat dan makin bertahan ketika Jeffers berusaha meluruskan paksa tangannya. Bahkan, ia jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

.

>> The Secret/Law of Attraction dalam Islam

Ketika saya pertama kali membaca buku “The Secret”, saya setuju dengan Rhonda Byrne kalau Islam pun pernah mengajarkan Law of Attraction. Let’s check ‘em out :

“Setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR Bukhari Muslim)

“Aku mengikuti prasangka hambaKu, jika prasangkaannya baik maka baiklah yang didapatkan, jika prasangkaannya buruk maka buruklah yang didapatkan.” (Hadits Qudsi)

“Aku bersama sangkaan hambaKu padaKu, maka hendaklah ia berprasangka dengan apa yang ia inginkan (bukan yang ia risaukan atau hawatirkan).” (Hadits Qudsi)

“Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (QS Al Baqarah 33)

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah 284)

“Dan Dialah Allah , (kekuasaanya terhampar) baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui apa yang kamu usahakan.” (QS Al An’am 3)

“Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu Ia hanya berkata ‘jadilah!’, maka terjadilah” (QS Al Baqarah 117)

“Sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. (QS Yaasiin 82)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang bila dimintai (sesuatu).” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)

Bahkan Rhonda Byrne pernah membahas “jangan menggunakan Law of Attraction untuk mengharapkan kejelekan tertimpa pada orang lain, karena malah semesta akan membuatnya memantul kepada diri Anda sendiri”. Hal itu sebenarnya pernah diucapkan oleh seorang ulama terkenal pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid (lupa namanya, so sorry) :

“Ketika Anda mengucapkan sesuatu agar kejelekan menimpa orang lain, maka umpatan Anda akan naik ke langit—sedangkan pintu-pintu langit itu menolaknya, sehingga umpatan itu kembali ke bumi, mencari ke sana-kemari, dan menuju orang yang Anda umpat bila ia layak menerimanya. Namun bila orang itu tidak layak menerimanya, umpatan itu akan kembali kepada Anda”

Disadari atau tidak, Rasulullah adalah guru besar The Secret, sampai sekecil apapun. Tidak percaya? Kita akan lihat contoh konkretnya. Misalnya, dalam hal niat dan pemberian nama.

.

((( Mengapa Kita harus Meluruskan Niat

“Ketika kita berdoa, mudah untuk meminta kepadaNya dalam kata-kata. Namun menaruh niat dan kesungguhan pada yang diinginkan, itu jauh lebih penting. Niat adalah sumber kekuatan yang dapat mengubah realita” (Michael Peace, “Advanced Attraction”)

Bila Anda mempelajari salah satu jantung ajaran rohani Islam, niat itu sangat penting. Bahkan niat berbuat baik saja sudah diganjar pahala oleh Allah, walau tidak jadi dilaksanakan. Tidak hanya dalam ibadah, aspek kegiatan lain dalam kehidupan seorang muslim harus didahului niat, niat, dan niat. Kita umat muslim sering mendengar nasihat “luruskan niat”, “luruskan niat hanya kepada Allah”. Dulu saya tidak paham tentang esensi niat ini. “Masak belajar aja harus pake niat ‘saya niat belajar karena Allah Ta’ala’?”. Emang sholat, kalii? Saya kutip haditsnya lagi, full edition :

Dari Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang telah ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA, maka hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.” (HR: Bukhari-Muslim)

Selama ini esensi niat dalam Islam ditafsirkan semata sebagai amalan saleh. Kalo kita ngasih duit ke pengemis karena ingin dipuji orang, maka pujian itulah yang akan kita dapatkan. Kalo kita berjihad karena ingin dijuluki jagoan, maka julukan “jagoan” itulah yang akan kita dapatkan. Tapi kalo kita jadi relawan bencana karena ingin ridha Allah, maka ridha Allah yang didapatkan. Sebatas itu saja. Namun setelah membaca buku Rhonda Byrne, saya baru menyadari kebenaran Islam atas hal ini. Bahwa niat tak hanya mempengaruhi ibadah, namun juga hidup kita. Subhanallah….

Kekuatan niat yang telah dijabarkan 14 abad lalu oleh Islam, ternyata telah dibuktikan dalam fisika kuantum. Werner Heisenberg, fisikawan Jerman pemenang nobel 1927, menemukan bahwa niat peneliti dapat mempengaruhi perilaku pergerakan atom yang diteliti. Teori ketidakpastian Heisenberg—sebutannya—adalah teori yang saat itu sangat radikal dalam dunia fisika. Menurut Heisenberg, perilaku atom tidak bisa ditetapkan secara ketat seperti halnya hukum sebab-akibat, dan seringkali tidak dapat diprediksikan. Misalnya, kalau kecepatan atom ditemukan, tapi bentuk orbitalnya tidak. Setiap kali para ilmuwan mencari sebuah elektron, elektron itu akan muncul di tempat mereka mengharapkannya. Malah yang lebih aneh lagi, ditemukan bahwa sekedar niat untuk mengukur partikel-partikel, walaupun pengukuran tidak jadi dilaksanakan, tetap akan mempengaruhi partikel-partikel itu!

“Rasulullah bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, Jika hambaKu berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan, maka Aku akan menulisnya satu pahala kebaikan walau ia belum mengerjakannya, dan jika ia mengerjakannya maka Aku menulisnya dengan sepuluh kebaikan” (HR Muslim)

Saya pernah mendapat nasihat baik dari seorang kyai : ketika Anda berdoa, spesifiklah, dan bersungguh-sungguhlah. Karena Allah akan mengabulkan doa sesuai kekuatan niat kita. Dan spesifiklah : bila Anda ingin “rejeki banyak”, maka deskripsikan padaNya seperti apa maksudnya, misalnya “agar dagangan lebih laris”, “naik gaji”. Mungkin doa kita tidak terkabul karena kita ragu-ragu, kurang ikhtiar, atau karena berdoa sambil lalu. Dan alhamdulillah, saya dapat merasakan “berdoa dan berniat secara spesifik” membuat saya mendapatkan berbagai hal yang saya inginkan—jauh sebelum saya mengenal The Secret. Bila kita meminta sambil ragu-ragu “dikabulkan atau enggak, ya? Gue kan banyak dosa”, ingatlah :

“Aku mengikuti prasangka hamba-Ku” (Hadits Qudsi)

“Janganlah kamu putus asa ketika Dia menunda mengabulkan keinginanmu, karena pemberian itu sesuai dengan kadar niatnya” (kutipan Ali bin Abi Thalib)

Tidak sebatas menjaga pikiran agar tidak berprasangka buruk pada Allah, Rasulullah SAW pun mewanti-wanti untuk menjaga ucapan—karena ucapan yang dikeluarkan sembarangan, dapat menjelma menjadi kenyataan. Dalam suatu hadits, disebutkan bahwa janganlah seseorang meminta kejelekan pada dirinya sendiri (karena kesal, misalnya), sebab bisa jadi Allah akan mengabulkannya, atau malaikat mengaminkannya.

((( Nama dan Penamaan

Bahkan, nama anak/orang pun—dalam Islam—harus dipilih sedemikian rupa untuk mendoakan si empunya nama tersebut dalam kebaikan. Rasulullah sering mengganti beberapa nama sahabat/ shahabiyah, atau nama tempat dengan nama yang lebih baik.

Misalnya, beliau mengganti nama Ashiyah (“wanita durhaka”) menjadi Jamilah (“wanita baik”), mengganti nama Hazan (“sedih”) menjadi Sahl (“mudah”), Juwairiyah Barrah (“Juwairiyah yang bersih dari kesalahan”) menjadi Juwairiyah saja, dan nama Harb (“perang”) menjadi Salam (“damai”). Juga sahabat bernama Abdul Syamsi (yang berarti “hamba matahari”), setelah masuk Islam diganti namanya dengan Abdurrahman (“hamba dari Maha Pemurah”) oleh Rasulullah. Abdurrahman ini kelak dijuluki “Abu Hurairah” (bapak kucing) oleh para sahabat lain karena dia selalu bersama kucingnya, seolah-olah kucing itu adalah bayangannya.

Beliau juga mengganti daerah yang bernama Afrah (“berdebu dan tandus”) menjadi Khadhirah (“subur”), dan mengganti nama perkampungan Dhalalah (“sesat”) menjadi Hidayah (“petunjuk”). Terkait dengan nama, Umar bin Khattab pernah bicara dengan seseorang seperti ini :

Umar : Siapa namamu?
Orang itu : Jamrah (“bara api”)
Umar : Siapa nama ayahmu?
Orang itu : Syihab (“jilatan lidah api”)
Umar : Dari mana asalmu?
Orang itu : Huraqah (“terbakar”)
Umar : Di bilangan mana tempat tinggalmu?
Orang itu : Harratin-Nar (“panasnya api”)
Umar : Di mana kampungmu?
Orang itu : Dzati Ladza (“membara”)
Umar : Rumahmu terbakar, pergilah.
Ketika orang itu pulang, ternyata yang dikatakan Umar menjadi kenyataan.

Di hadits lain, Rasulullah melarang memberi nama anak dengan nama “Rahmat” dan “Rizki” (rejeki). Alasan beliau, bila si empunya nama itu tidak hadir di suatu forum, maka forum itu akan mengatakan “di sini tidak ada Rahmat”, “di sini tidak ada Rizki”—yang berarti tanpa sadar mendoakan kejelekan buat forum tersebut. Sampai segitunya, ya?

http://halfscience999.wordpress.com